TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>> Proses pengerukan alur Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu kembali mendapat sorotan. Hingga saat ini, pengerjaan yang ditargetkan mampu mencapai kedalaman empat meter pada tahap pertama belum juga terealisasi. Kondisi terbaru menunjukkan kedalaman alur hanya berada di angka 2,9 meter, jauh dari target yang ditetapkan.
Tersendatnya pengerukan ini salah satunya dipicu oleh kerusakan pada kapal bantu AHT Costa Fortuna 5. Kapal tersebut sejatinya berperan penting sebagai tug boat pendukung dalam membantu manuver dan operasional kapal keruk utama, yakni CSD Costa Fortuna 3. Namun, akibat kerusakan teknis, AHT Costa Fortuna 5 terpaksa menjalani proses docking sehingga tidak bisa difungsikan.
Situasi ini berdampak langsung pada lambannya progres pengerukan. Sedimentasi yang menumpuk di pintu alur pelabuhan belum mampu ditangani secara maksimal. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran karena Pelabuhan Pulau Baai merupakan jalur vital bagi arus keluar-masuk kapal barang, termasuk komoditas ekspor unggulan Provinsi Bengkulu seperti batu bara, CPO, dan hasil pertanian.
Menanggapi hal ini, Anggota DPRD Kota Bengkulu, **Edy Hariyanto**, menegaskan pentingnya langkah cepat dari pihak pelaksana maupun pemerintah. Menurutnya, permasalahan kerusakan armada pendukung tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena akan mengganggu perekonomian daerah.
“Pelabuhan Pulau Baai adalah urat nadi perdagangan Bengkulu. Kalau pengerukan tidak segera diselesaikan, kapal-kapal besar akan kesulitan masuk. Dampaknya bisa sangat serius terhadap arus ekspor dan distribusi logistik. Karena itu, perbaikan kapal tug boat harus dipercepat atau segera siapkan armada pengganti,” ujar Edy, Sabtu (23/8).
Ia menambahkan, selain mempercepat perbaikan AHT Costa Fortuna 5, pihak pelaksana proyek sebaiknya memiliki rencana cadangan. Salah satunya dengan menyiapkan tug boat alternatif agar pengerjaan di lapangan tidak berhenti total ketika terjadi kerusakan.
“Proyek strategis seperti ini seharusnya punya mitigasi risiko. Jangan sampai hanya karena satu kapal rusak, seluruh proses pengerukan mandek. Ini harus jadi evaluasi bersama,” lanjutnya.
Edy juga mendorong pemerintah daerah dan pusat untuk lebih tegas dalam melakukan pengawasan terhadap kontraktor pelaksana. Menurutnya, keterlambatan pengerukan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi daerah, padahal Bengkulu sedang berupaya meningkatkan daya saing melalui sektor perdagangan dan pelabuhan.
“DPRD tentu akan mengawal persoalan ini. Kami ingin ada kepastian waktu kapan pengerukan selesai. Jangan sampai masyarakat dan pelaku usaha terus dirugikan akibat lambannya progres,” tegasnya.
Ia berharap sinergi antara pelaksana proyek, otoritas pelabuhan, dan pemerintah bisa lebih ditingkatkan. Dengan begitu, kendala teknis yang muncul dapat segera diatasi tanpa harus menunggu berlarut-larut.
“Kalau Pelabuhan Pulau Baai optimal, ini akan berdampak besar terhadap perekonomian. Jadi kita minta semua pihak serius menyelesaikan persoalan ini,” tutup Edy.
Hingga berita ini diturunkan, proses perbaikan AHT Costa Fortuna 5 masih berlangsung. Sementara itu, aktivitas pengerukan alur pelabuhan berjalan terbatas sehingga belum menunjukkan capaian signifikan sesuai target.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra