Skip to main content

Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi Tak Kuasa Menahan Tangis, Temukan Warga Tinggal Bersama Kandang Ayam

Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi Tak Kuasa Menahan Tangis, Temukan Warga Tinggal Bersama Kandang Ayam

TEROPONGPUBLIK.CO.ID - Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi membagikan pengalaman emosional yang ia alami saat menyambangi salah satu warganya di Kelurahan Pematang Gubernur, Kota Bengkulu. Kunjungan tersebut meninggalkan luka batin mendalam bagi orang nomor satu di Kota Merah Putih itu, setelah menyaksikan langsung kondisi kehidupan keluarga Bapak Pandi yang harus bertahan hidup dalam keterbatasan ekstrem.

Awalnya, Dedy datang dengan niat sederhana, yakni mengantarkan bantuan kursi roda kepada warga yang membutuhkan. Namun, laporan dari Kepala Bidang Sosial mengenai adanya rumah dengan kondisi sangat memprihatinkan membuat langkahnya berbelok ke sebuah hunian sempit yang jauh dari kata layak. Apa yang ia temukan di sana membuat hatinya terguncang.

Saat memasuki rumah tersebut, Dedy mendapati Bapak Pandi terbaring lemah di ruang tengah. Ironisnya, di ruangan yang sama terdapat kandang ayam yang menyatu dengan area tempat tinggal. Bau menyengat, lantai kotor, dan kondisi rumah yang nyaris tak terawat menjadi pemandangan yang sulit dilupakan.

“Saya masuk ke dalam rumah dan melihat langsung kondisi itu. Bapaknya terbaring, di sampingnya kandang ayam. Bau tidak tertahankan, rumahnya kotor. Saat itu saya merasa sangat berdosa. Bagaimana bisa masih ada warga yang hidup seperti ini di tengah kota kita,” ungkap Dedy Wahyudi dengan suara bergetar, Jumat (16/1/2026).

Tak hanya kondisi fisik rumah yang menyentuh nuraninya, Dedy juga menemukan persoalan sosial lain yang tak kalah memprihatinkan. Di dalam rumah tersebut tinggal Tika (14), putri Bapak Pandi, yang diketahui sudah lama tidak mengenyam pendidikan. Remaja itu memilih mengurung diri di kamar akibat trauma mendalam setelah menjadi korban perundungan di sekolahnya.
Peristiwa itu langsung memantik perhatian serius Walikota terhadap dunia pendidikan. Ia menilai bahwa kasus Tika merupakan peringatan keras bagi semua pihak agar tidak menutup mata terhadap persoalan bullying yang berdampak panjang bagi masa depan anak.

“Saya minta kepada seluruh kepala sekolah, kalau ada siswa tidak masuk sekolah dua hari berturut-turut, segera cek ke rumahnya. Jangan dibiarkan. Jika ada anak putus sekolah karena bullying, langsung laporkan ke Dinas Pendidikan Kota Bengkulu,” tegas Dedy.

Dalam peninjauan tersebut, diketahui bahwa rumah yang ditempati keluarga Bapak Pandi berdiri di atas lahan yang bukan milik pribadi, sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan renovasi. Menyadari hal itu, Dedy langsung mengambil langkah cepat dengan menggandeng sejumlah mitra strategis guna mencari solusi jangka panjang.
Respons positif pun datang dari berbagai pihak. Anggota DPRD Kota Bengkulu sekaligus Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Bengkulu, Syamsu Ihwan, menyatakan kesediaannya menyediakan sebidang tanah untuk lokasi pembangunan rumah baru.

Sementara itu, Kapolda Bengkulu Irjen Pol Mardiyono berkomitmen menanggung seluruh biaya pembangunan fisik rumah hingga selesai.
Adapun Pemerintah Kota Bengkulu akan bertanggung jawab melengkapi seluruh kebutuhan rumah tangga, mulai dari perabotan hingga kebutuhan dasar keluarga tersebut.

“Pak Kapolda awalnya ingin menanggung semuanya. Tapi saya bilang, kebaikan ini harus dibagi-bagi. Pak Iwan siapkan tanah, Pak Kapolda bangun rumah, dan Pemkot yang mengisi perabotannya,” tutur Dedy.

Aksi cepat dan kolaboratif ini diharapkan menjadi contoh nyata kepedulian sosial serta memperkuat semangat gotong royong di tengah masyarakat. Dedy menegaskan bahwa persoalan kemiskinan ekstrem dan perlindungan anak harus menjadi perhatian bersama, bukan hanya pemerintah semata.

Ia berharap kejadian ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat dan para pejabat untuk lebih peka terhadap kondisi sosial di lingkungan sekitar, sehingga tidak ada lagi warga yang luput dari perhatian dan hidup dalam kondisi yang tidak manusiawi di tengah pesatnya pembangunan kota.
Pewarta: Amg
Editing: Adi Saputra