Skip to main content

Warem Beringin Raya Dibongkar, Warga Tarik Napas Lega

Warem Beringin Raya Dibongkar, Warga Tarik Napas Lega

TEROPONGPUBLIK.CO.ID - Kawasan Beringin Raya, Kecamatan Muara Bangkahulu, tidak lagi diselimuti nuansa suram yang biasa muncul saat senja turun. Kali ini, suara yang terdengar bukan dentuman musik keras atau teriakan orang mabuk, melainkan bunyi besi dipukul, papan dipereteli, dan mesin pembongkar berputar. Di lokasi itulah, satu per satu bangunan yang selama ini dikenal masyarakat sebagai warung remang-remang (warem) akhirnya ditumbangkan.

Puluhan personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bengkulu berjajar rapi mengawal jalannya penertiban. Mereka memastikan proses berlangsung tertib dan tanpa gesekan. Sejumlah aparat kelurahan dan kecamatan juga tampak hadir, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar operasi rutin, melainkan respons serius terhadap keresahan warga yang sudah memuncak.

Bangunan-bangunan yang dirobohkan selama ini berdiri dengan dalih usaha kuliner. Namun, kenyataannya jauh dari itu. Di balik lampu temaram dan pintu setengah tertutup, tempat-tempat tersebut justru menjadi lokasi hiburan malam yang sarat dengan praktik menyimpang. Kondisi itu membuat lingkungan sekitar perlahan berubah dari kawasan permukiman yang tenang menjadi titik rawan gangguan sosial.

Kasatpol PP Kota Bengkulu, Sahat Marulitua Situmorang, menyebut bahwa desakan masyarakat menjadi alasan utama dilaksanakannya pembongkaran. Ia mengatakan keluhan datang dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh agama, tokoh adat, hingga kelompok ibu-ibu rumah tangga yang merasa keamanan dan ketenangan mereka dirampas.
“Warga menyampaikan kegelisahan mereka dengan sangat jelas. Ini bukan lagi soal usaha kecil, tapi soal dampak sosial. Kedoknya jual makanan, tapi praktik di dalamnya hiburan malam yang merusak,” ujar Sahat saat ditemui di lokasi, didampingi Camat Muara Bangkahulu Bambang dan Lurah Beringin Raya Lena Hayati.

Bagi warga RT 07 Kelurahan Beringin Raya, keberadaan warem telah menjadi sumber tekanan psikologis. Setiap malam, suara musik dengan volume tinggi memecah keheningan, disusul kebisingan knalpot kendaraan dan keributan antar pengunjung yang kerap dipicu oleh minuman keras. Tak jarang, perkelahian pecah dan melibatkan orang-orang yang bahkan bukan warga setempat.
“Rumah kami sering tidak bisa tenang. Pernah ada orang mabuk lari ke rumah warga, lalu berkelahi. Anak-anak jadi takut,” kata seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Dalam proses pembongkaran, sempat muncul suasana haru ketika salah satu pemilik bangunan memohon agar tempatnya tidak diruntuhkan. Ia berjanji akan mengubah fungsi bangunan menjadi hunian biasa. Namun, permintaan itu tidak mampu melunakkan sikap warga dan aparat. Kepercayaan sudah terlanjur hilang setelah berbagai peringatan sebelumnya diabaikan.

Sahat menjelaskan bahwa karakter masyarakat Bengkulu pada dasarnya terbuka dan mudah percaya. Namun, ketika kesabaran dilanggar berulang kali, sikap tegas menjadi satu-satunya pilihan.
“Kalau sudah berkali-kali diperingatkan tapi tidak berubah, wajar kalau warga kehilangan kepercayaan. Hari ini, puncaknya,” ujarnya.

Menariknya, tidak terjadi bentrokan dalam penertiban ini. Para pemilik bangunan akhirnya memilih membongkar sendiri warem mereka setelah menyadari kuatnya dorongan masyarakat dan bukti pelanggaran yang tidak bisa dibantah. Satpol PP hanya bertindak sebagai pengawas sekaligus fasilitator agar proses berjalan cepat dan aman.
Kini, sisa-sisa bangunan yang telah menjadi puing seolah menandai berakhirnya sebuah bab kelam di Beringin Raya. Debu yang beterbangan perlahan mengendap, seiring munculnya harapan baru di hati warga.
Mereka berharap lingkungan kembali menjadi ruang yang ramah bagi keluarga, anak-anak, dan kehidupan sosial yang sehat.

Bagi masyarakat, pembongkaran ini bukan sekadar merobohkan bangunan fisik, melainkan juga memutus mata rantai keresahan yang selama ini menghantui malam-malam mereka. Pemerintah telah bergerak, dan warga pun menyambutnya dengan optimisme bahwa Beringin Raya bisa kembali menjadi kawasan yang aman, tenang, dan bermartabat.
Pewarta: Amg
Editing: Adi Saputra